Metana

Kau yang diam-diam

Membisikkan namaku dalam doa

Memanusiakanku dalam laku

Tanpa ada kata dan janji manis

Menghidupkanku dari mati suri

Menghangatkan aku dalam kasih

Sehingga ku mampu menghidupkan sekitarku

Kebaikanmu berkelindan

Ketulusanmu tak tergantikan

Kelak di akhirat nanti, aku mau jadi saksimu untuk masuk nirwana

Bedah Rasa

Kau bisa disebut manusia

Hanya jika kau peka pada rasa

Sebab apa seseorang pergi adalah tiada cinta

Sebab apa seseorang sakit hati adalah harapan

Sebab apa seseorang ingin memiliki adalah nafsu

Sedangkan rasa sayang dan cinta

Berdiri sendiri, bersinar, merekah

Menerangi siapapun yang murni merasakannya

Rasa sayang membuat hatimu hangat

Sedangkan rasa cinta membuatmu lebih hidup

Di Januari yang Sama, Kita Selingkuh

Terlihat jelas di mataku, data itu
Januari itu kau pesan hotel di Puspowarno
Membeli makanan daring
Satu hari sebelum menuju Bandara Ahmad Yani

Teringat jelas dalam rasaku tahun berikutnya
Januari itu seseorang pesankan aku hotel
Kami menertawakan ketololanmu
Dia pun bantu ku lupakan rasanya kamu

Jangan pernah merasa
Bahwa kamu sudah melempar derita
Untuk menghukumku atas akibat
Dari segala kecacatan pikirmu

Di Januari yang Sama, Kita Selingkuh

Berkatilah

Terima kasih Tuhan

Sudah mengirimnya untukku

Menjadi malaikat penyelamat

Yang dengan tulus menarikku

Dari jurang depresi

Tanpa tuntutan dan tanpa pamrih

Bukan keluarga

Bukan juga saudara satu darah

Bukan juga pasangan atau mantan

Meski kata orang-orang moron:

“Laki dan perempuan itu gak bisa temenan!”

Tapi aku bersyukur

Dikelilingi teman yang baik

Yang tidak pernah sekalipun

Mengambil keuntungan dariku

Atau bahkan menghancurkanku

Aku berdoa semoga sahabat-sahabatku ini

Diberikan kebahagiaan dan keselamatan

Pun juga diriku

Sebab kami berhak

Sebab kami manusia yang pandai menjaga diri

Berkatilah kami semua, wahai semesta

Ingatan

aku memajang figuramu

di meja kerjaku

di handphone ku

di buku catatanku

di hatiku

senyum bibir tipis itu

mata dibalik kacamata itu

tubuh tinggi itu

dan tentu saja prinsip hidup itu

kau yang aku mau sejak dulu

aku tak meletakkan kamu di gunung

maupun di pantai

karena itu pasti akan segera menyakitiku

aku hanya menaruhmu pada ingatanku

yang kelak bila aku hilang ingatan

sudah tentu aku melupakanmu

Cara Kerja Karma

Suatu hari seorang sahabat datang padaku sambil menangis

“Mantanku cha, kamu tau kan?”

“Kenapa dia?”

“Kamu tau kan saat kami bersama dulu?”

“Iya, aku tau”

Tiasa namanya, playboy kampus sebelah. Selama bersama sahabatku ini ternyata dia juga bersama 2 perempuan lain yang semuanya dijanjikan sama: akan segera dinikahi.

“Lihat dia sekarang, sudah kerja di posisi yang tak tergoyahkan, punya anak istri, punya segalanya yang dia mau beli”

Ah benar juga ya, aku jadi berpikir.

“Kamu tau?” Kataku. “Kadang kita bingung dengan cara kerja karma, tapi yang pasti, masa depan itu suci bagi siapapun yang mau belajar dan berubah menjadi lebih baik”

Dan lagi..

“Tiap orang punya proses yang berbeda, aku pun, kamu juga. Bedanya, proses dia dengan menjadi playboy yang jelas ikut merugikan orang lain, sedangkan aku berproses dengan ketidakstabilan emosiku, mana ada sejarahnya aku selingkuh karena aku memang tidak dibentuk menjadi orang seperti itu. Kamu pun mungkin juga sama.”

“Jadi aku harus apa?”

“Lupakan, dan temukan dirimu duniamu sendiri”

Disuatu Mimpi – Ziarah

Malam itu adalah malam dimana aku masih sekuat tenaga meyakinkan bawah sadarku bahwa dia memutuskan untuk pergi. Seluruh alterku terbangun dan berontak dalam satu tubuhku. Ada yang berkata dia akan kembali, ada yang berkata ikhlaskan saja, semuanya memekak dalam kepalaku.

Dalam chaosnya pertentangan ini, kubiarkan saja tubuhku tenggelam dalam kelelahan hingga perlahan terlelap..

Jauh..

HAH DIMANA INI?

Continue reading “Disuatu Mimpi – Ziarah”